Kenapa Perjalanan Pulang Selalu Terasa Lebih Cepat? Ini Penjelasannya

Daftar Isi

Jakarta, lobviagra Indonesia

—

Pernah merasa

perjalanan

pergi menuju suatu tempat terasa lama, tetapi perjalanan pulangnya seperti berlangsung jauh lebih singkat? Padahal, jarak yang ditempuh sama dan waktu perjalanan sebenarnya tidak berubah.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai

return trip effect

, yakni kecenderungan perjalanan pulang terasa lebih singkat dibandingkan perjalanan pergi.

Fenomena tersebut bukan sekadar perasaan yang dialami sesekali. Sejumlah penelitian mencoba menguji mengapa otak dapat mempersepsikan perjalanan yang sama dengan cara berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan pulang memang terasa lebih singkat

Penelitian dari

Psychonomic Bulletin & Review

menguji

return trip effect

melalui tiga studi. Peneliti menggunakan beberapa situasi, mulai dari perjalanan nyata menggunakan bus dan sepeda hingga eksperimen ketika peserta menonton video perjalanan.

Hasilnya konsisten, peserta cenderung menilai perjalanan pulang lebih singkat dibandingkan perjalanan pergi, meskipun durasi dan jarak keduanya sebenarnya sama.

Salah satu penjelasan yang paling mudah adalah familiaritas. Saat berangkat, kita belum tahu persis seperti apa perjalanan yang akan dilalui. Ketika pulang, kita sudah mengenali rute sehingga perjalanan terasa lebih mudah diprediksi.

Bahkan penelitian menemukan bahwa efek tersebut tetap muncul meskipun peserta menggunakan rute berbeda saat perjalanan pulang, selama jarak yang ditempuh sama.

Ekspektasi ikut memengaruhi

Peneliti kemudian mengajukan penjelasan yang disebut expectation violation atau pelanggaran ekspektasi. Saat berangkat, seseorang mungkin memperkirakan perjalanan akan berlangsung singkat. Ketika perjalanan ternyata terasa lebih lama dari perkiraan, ekspektasi terhadap perjalanan berikutnya ikut berubah.

Saat perjalanan pulang ternyata tidak selama yang dibayangkan, durasi tersebut kemudian terasa lebih singkat. Jadi, bukan waktu perjalanannya yang berubah, melainkan cara otak memperkirakan dan mengingat durasi tersebut.

Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa yang berubah adalah persepsi kita terhadap durasi perjalanan. Bahkan, efek tersebut dapat baru terasa setelah perjalanan berakhir, ketika otak melihat kembali dan membandingkan dua pengalaman yang sebenarnya memiliki durasi sama. Ternyata, efeknya juga bisa muncul setelah sampai.

Mengutip penelitian yang diterbitkan dalam

PLOS ONE

, peneliti membandingkan penilaian durasi yang dilakukan saat perjalanan berlangsung dengan penilaian setelah perjalanan selesai. Mereka juga mengukur aktivitas sistem saraf otonom peserta menggunakan elektrokardiogram (ECG).

Hasilnya menunjukkan

return trip effect

tetap muncul setelah perjalanan selesai. Artinya, seseorang belum tentu merasa perjalanan pulang lebih cepat saat masih berada di dalam kendaraan.

Jadi, otak kita memang punya cara sendiri dalam menghitung perjalanan.

(anm/asr)

Baca lagi: Wacana Kenaikan Tarif Ragunan, Harga Tiket Masuk Jadi Rp10 Ribu

Baca lagi: Ketum TP PKK Kunjungi SMAN 2 Ternate, Tekankan Pentingnya Hidup Sehat

Baca lagi: Kenapa Kuota Cepat Habis Padahal Jarang Internetan? Ini Penyebabnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: