
Daftar Isi
Jakarta, lobviagra Indonesia
—
Desa pesisir Namchang-ri di wilayah administrasi Haenam,
Korea Selatan
, yang semula sepi kini mendadak diserbu wisatawan usai menjadi lokasi syuting film thriller “Hope” karya sutradara Na Hong-jin.
Fenomena ini mempertegas melesatnya tren
screen tourism
, perjalanan wisata yang dipicu oleh kepopuleran film maupun serial televisi.
Mengutip
Korea JoongAng Daily
, sejak “Hope” dirilis pada 15 Juli, tiruan pos polisi fiktif yang dibangun untuk kebutuhan syuting berhasil menarik rata-rata 139 pengunjung per hari. Padahal, desa tersebut hanya dihuni oleh 418 penduduk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merespons antusiasme publik terhadap nuansa retro era 1970-an yang ditampilkan dalam film, Pemerintah Haenam mengucurkan investasi sebesar 1,1 miliar won.
Anggaran ini dialokasikan untuk menyulap kawasan Namchang menjadi jalan budaya bertema ”
Hope
“, lengkap dengan replika mobil patroli, restoran lokasi adegan film, mural, hingga atraksi jejak kaki monster guna menggerakkan ekonomi lokal.
Dampak
screen tourism
juga terbukti signifikan di wilayah Korea Selatan lainnya. Lokasi syuting drama sejarah “The King’s Warden” di Kabupaten Yeongwol mencatatkan angka kunjungan lebih dari 801 ribu orang pada periode Januari hingga Juli-melonjak tiga kali lipat dibanding total pengunjung tahun sebelumnya.
Lembaga
Korea Culture and Tourism Institute
mencatat pengeluaran wisatawan luar daerah di Yeongwol meningkat 27,2 persen dalam empat minggu setelah film dirilis.
Selain
screen tourism
, kepopuleran film turut melahirkan fenomena story-doing, yakni kondisi ketika wisatawan secara aktif mereka ulang adegan film.
Hal ini terlihat di waduk terpencil wilayah administrasi Yesan akibat film ”
Salmokji: Whispering Water
“, di mana wisatawan nekat berkunjung pada malam hari demi merasakan atmosfer horor, sampai pemerintah setempat harus menerbitkan imbauan larangan berkunjung setelah gelap.
Pakar pariwisata dari Hanyang University, Jeong Ran-soo, mengingatkan bahwa
screen tourism
pada dasarnya memiliki siklus hidup yang relatif singkat. Lokasi syuting hanya dapat bertahan lama sebagai destinasi wisata jika memiliki narasi yang kuat atau nilai sejarah tersendiri.
Kegagalan mempertahankan kontinuitas ini terlihat pada
Naju Image Theme Park
, lokasi syuting drama populer ”
Jumong
” (2006). Meski menelan biaya pembangunan dan pengembangan hingga 17,2 miliar won, objek wisata tersebut akhirnya resmi ditutup pada 2023 akibat menanggung kerugian operasional yang terus membengkak.
Sebaliknya, Pulau Nami terbukti berhasil menjaga daya tariknya hingga dekade ini meski demam drama ”
Winter Sonata
” telah usai. Keberhasilan tersebut dicapai lewat inovasi konten berkelanjutan, salah satunya meluncurkan konsep kawasan rekreasi Naminara Republic.
(dsd/wiw)
Baca lagi: RUU Reforma Agraria dari DPR Bentuk Badan Reforma Agraria Nasional
Baca lagi: Harga Minyak Dunia Mepet US$100 usai Iran Serang Aset Militer AS



